Gempa bumi terjadi akibat pelepasan energi secara tiba-tiba dari pergerakan lempeng tektonik. Titik asal pelepasan energi disebut hiposenter (di bawah tanah), sedangkan proyeksinya di permukaan disebut episentrum.
Gempa menghasilkan gelombang P (primer, kompresi, lebih cepat ±6 km/s) dan gelombang S (sekunder, geser, lebih lambat ±3.5 km/s). Gelombang S lebih destruktif karena menyebabkan gerakan horizontal pada struktur bangunan.
Skala Momen Magnitudo (Mw) mengukur energi total yang dilepaskan. Setiap kenaikan 1 Mw setara dengan pelepasan energi ~32 kali lebih besar. Gempa di atas 7.0 Mw berpotensi merusak bangunan dalam radius luas.